Khutbah Jumat Singkat: Meneladani Nabi Ibrahim
Khutbah Jumat Singkat: Meneladani Nabi Ibrahim ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 15 Dzulqa’dah 1447 H / 1 Mei 2026 M.
Khutbah Jumat Pertama: Meneladani Nabi Ibrahim
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ ، فَإِنَّ الْحَيَّ لا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ
“Siapa di antara kalian yang ingin mengambil teladan, ambillah dari orang yang sudah mati, karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah.”
Sebaik-baik teladan adalah para nabi karena mereka manusia terbaik yang terjaga dari kesalahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perihal Nabi Ibrahim ‘alaihish shalatu wasallam yang patut dijadikan teladan:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah lagi hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (Lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (QS. An-Nahl[16]: 120-121)
Berdasarkan ayat tersebut, Nabi Ibrahim memiliki sifat-sifat utama:
Nabi Ibrahim Sebagai Teladan Umat
Beliau adalah teladan dalam kebaikan. Setiap muslim hendaknya berusaha menjadi contoh kebaikan, bukan keburukan. Terdapat orang-orang yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla serta menjauhi larangan-Nya dalam setiap ucapan dan perbuatan merupakan wujud takwa yang akan menjadi teladan bagi orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang buruk, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim)
Ketundukan Sebagai Sumber Kemuliaan
Sifat kedua Nabi Ibrahim adalah qanitan lillah, yakni tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba yang sadar akan hakikat dirinya akan senantiasa patuh karena meyakini bahwa setiap perintah Allah mengandung kebaikan dan setiap larangan-Nya mengandung keburukan.
Ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sumber kemuliaan yang hakiki. Siapa pun yang tunduk dan patuh kepada-Nya pasti akan dimuliakan hidupnya. Oleh karena itu, para nabi menjadi manusia yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala karena mereka adalah hamba yang paling tunduk kepada-Nya.
Kemuliaan seorang hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala berbanding lurus dengan tingkat ketundukannya. Semakin taat seseorang, maka semakin mulia kedudukannya. Sebaliknya, kedurhakaan hanya akan menjadikan manusia buruk dan hina di hadapan-Nya. Hal ini terlihat pada Iblis laknatullah yang menjadi makhluk paling buruk karena kedurhakaannya, bahkan Allah menjadikan ia tampak buruk di mata manusia hingga setiap orang yang mendengar namanya akan merasa takut.
Sifat utama yang harus dimiliki seorang hamba adalah qanitan lillah, yaitu senantiasa tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu, hamba tersebut harus berjiwa hanif, yakni jiwa yang teguh di atas fitrah dan berpaling dari segala bentuk kesyirikan. Keyakinan tersebut berdasar pada pemahaman bahwa satu-satunya Zat yang berhak diibadahi hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Sang Pencipta langit, bumi, dan seluruh isinya.Menjadi seorang muslim berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (al-istislamu lillahi bit-tauhid). Penyerahan diri ini mencakup kesiapan untuk diatur oleh syariat-Nya serta kesiapan menghadapi segala takdir, baik yang sesuai dengan keinginan maupun yang tidak. Hakikat Islam adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap aspek kehidupan.
Khutbah Jumat Kedua: Meneladani Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam tidak termasuk orang-orang yang berbuat syirik. Hal ini disebabkan kesyirikan adalah bentuk penghinaan terbesar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hakikat kesyirikan adalah mempersamakan makhluk dengan Sang Pencipta. Padahal, tidak ada satu pun yang sebanding dengan-Nya sebagaimana firman-Nya:
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 4)
Apabila manusia tidak sudi disamakan dengan makhluk yang derajatnya lebih rendah, maka sangat tidak pantas Allah yang memberikan rezeki dan dibutuhkan oleh seluruh makhluk disamakan dengan ciptaan-Nya. Menjauhi kesyirikan adalah jalan untuk meraih kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Senantiasa Mensyukuri Nikmat-Nikmat Allah
Sifat luhur lainnya yang dimiliki Nabi Ibrahim adalah senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah (syakiran li-an’umih). Syukur yang hakiki harus mencakup tiga perkara utama:
Pengakuan dalam Hati: Menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan semata-mata karena keahlian diri sendiri atau campur tangan pihak lain.
Ucapan Lisan: Senantiasa memuji Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah dan menisbatkan nikmat tersebut kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menirukan ucapan Nabi Sulaiman:
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي
Amalan Anggota Badan: Menggunakan nikmat yang diberikan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menggunakannya untuk kemaksiatan.
Download mp3 Khutbah Jumat: Meneladani Nabi Ibrahim
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Meneladani Nabi Ibrahim” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56214-khutbah-jumat-singkat-meneladani-nabi-ibrahim/